Di penghujung tahun 2024, saatnya kita mulai menyusun resolusi untuk tahun 2025. Salah satu resolusi yang sering menjadi fokus banyak orang adalah menurunkan berat badan dan secara bertahap mengatasi masalah obesitas.
Bagi yang mungkin belum terlalu familiar, obesitas dan berat badan berlebih adalah dua kondisi yang berbeda namun sering dianggap serupa.
Perbedaan
Berat badan berlebih terjadi ketika berat badan seseorang melebihi kisaran berat badan ideal, namun belum mencapai tingkat yang dapat dikategorikan sebagai obesitas. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dan energi yang digunakan, tetapi tidak selalu melibatkan penumpukan lemak berlebih yang signifikan.
Sedangkan Obesitas adalah kondisi yang lebih serius, di mana terjadi ketidakseimbangan energi yang lebih parah. Hal ini memicu penumpukan lemak yang abnormal atau berlebihan dalam tubuh, sehingga meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti penyakit jantung, diabetes, dan gangguan pernapasan.
Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat lebih waspada terhadap kesehatan tubuh dan mulai mengambil langkah pencegahan sejak dini untuk menghindari komplikasi di masa depan.
Obesitas sering kali merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk lingkungan, psikologis, dan genetik. Dalam banyak kasus, obesitas disebabkan oleh kombinasi dari faktor-faktor ini. Namun, pada beberapa individu, penyebab utama obesitas dapat diidentifikasi dengan jelas, seperti efek samping obat tertentu, penyakit tertentu, kurangnya aktivitas fisik karena kondisi kesehatan, atau gangguan genetik yang langka.
Lingkungan juga memainkan peran besar dalam meningkatkan risiko obesitas. Misalnya, sulitnya mendapatkan makanan sehat yang terjangkau di sekitar kita, kurangnya fasilitas yang aman dan nyaman untuk beraktivitas fisik sehari-hari, serta kebijakan yang kurang mendukung gaya hidup sehat semuanya dapat memperburuk masalah obesitas di masyarakat. Selain itu, kurangnya sistem kesehatan yang proaktif dalam mendeteksi kelebihan berat badan sejak dini juga menjadi tantangan. Ketika tanda-tanda awal kelebihan berat badan tidak segera ditangani, risiko berkembangnya obesitas menjadi lebih besar.
“Menurut data UNICEF Indonesia, tingkat obesitas di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan di berbagai lapisan masyarakat. Salah satu penyebab utamanya adalah peralihan pola makan, dari makanan tradisional yang umumnya lebih sehat, ke makanan olahan yang seringkali tinggi kandungan lemak dan gula.”
Produk olahan ini cenderung lebih terjangkau, tetapi dampaknya pada kesehatan jangka panjang tidak bisa diabaikan. Berdasarkan data terbaru dari World Health Organization (WHO) pada tahun 2024:
“Tingkat obesitas pada orang dewasa di seluruh dunia telah meningkat dua kali lipat sejak tahun 1990, sementara obesitas pada remaja meningkat empat kali lipat. Lebih dari 390 juta anak-anak dan remaja berusia 5 hingga 19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022, dengan sekitar 160 juta di antaranya hidup dengan obesitas”
Pada tahun 2019, diperkirakan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas yang menyebabkan Indeks Massa Tubuh (BMI) lebih tinggi dari normal berkontribusi pada sekitar 5 juta kematian akibat penyakit tidak menular (PTM). Penyakit-penyakit ini meliputi penyakit jantung, diabetes, kanker, gangguan neurologis, penyakit pernapasan kronis, dan gangguan pencernaan.
Kelebihan berat badan, obesitas, dan penyakit tidak menular yang terkait sebagian besar dapat dicegah dan dikelola. Untuk mengurangi risikonya, kita dapat mulai mengambil langkah-langkah pencegahan sejak dini, bahkan sebelum kehamilan, dan terus menjaga pola hidup sehat sepanjang hayat. Berikut adalah langkah-langkah penting yang bisa kita lakukan:
- Pastikan penambahan berat badan yang sehat selama kehamilan.
- Bagi ibu hami berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama setelah melahirkan dan teruskan pemberian ASI hingga 24 bulan atau lebih.
- Dukung perilaku sehat anak-anak, seperti makan dengan baik, beraktivitas fisik, dan mengurangi kebiasaan duduk terlalu lama.
- Batasi waktu menonton layar pada anak-anak dan dewasa.
- Kurangi konsumsi minuman manis dan makanan tinggi kalori, serta dorong kebiasaan makan sehat lainnya.
- Nikmati gaya hidup sehat dengan pola makan bergizi, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup dan berkualitas, serta hindari penggunaan tembakau dan alkohol. Jaga juga keseimbangan emosional diri.
- Batasi konsumsi lemak dan gula, serta tingkatkan asupan buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, dan legum.
- Lakukan aktivitas fisik secara teratur untuk menjaga kebugaran tubuh.
- Konsumsi supplement tambahan untu bantu Kelola berat badan.
Dengan menerapkan langkah-langkah ini, kita dapat menjaga kesehatan tubuh dan mencegah berbagai masalah kesehatan jangka panjang.
Reference:
https://www.who.int/news-room/factsheets/detail/obesity-and-overweight https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/429/obesitas https://www.unicef.org/indonesia/nutrition/reports/landscape-analysis-overweight-and-obesity-indonesia



